Kabar Desa

iklan Penerimaan Mahasiswa baru universitas wisnuwardhana
space ads post kiri

‘Semar Ambangun Kahyangan’ Meriahkan Hari Jadi ke-150 Desa Segaran Gedangan

  • Minggu, 22 Oktober 2017 | 16:52
  • / 1 Safar 1439
  • Dibaca : 11 kali
‘Semar Ambangun Kahyangan’ Meriahkan Hari Jadi ke-150 Desa Segaran Gedangan
Yatim: Kades Segaran bersama warga santuni Anak Yatim

*Desa Tua, Kaya Sejarah & Legenda

Memontum Malang–‘Semar Ambangun Kahyangan’ (Semar Membangun) Kahyangan, begitu judul cerita dalam pagelaran wayang kulit semalam suntuk dalam rangka peringatan hari jadi Desa Segaran Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang ke-150, Kamis (19/10/2017) malam kemarin.

Ditemui memontum.com sebelum berlangsungnya acara, Sugiyanto Kepala Desa Segaran menjelaskan inti fisolofi ceritera wayang kulit dengan ki dalang Sarjono asal Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang ini.

 

Istiqosah: Kades Bersama Perangkat Gelar Istiqosah

Istiqosah: Kades Bersama Perangkat Gelar Istiqosah

Dikatakan, Semar adalah cermin sosok seorang peminpin yang selalu jadi pengayom yang pernah berkepentingan pribadi,adil dan bijaksana.Ia mencemaskan nasib kerajaan Amarta, ada sesuatu hal yang mengganjal di hatinya tetapi ia tidak bisa mengungkapkannya.

Semar lalu meminta Petruk pergi ke Amarta guna  menemui para punggawa Amarta dan menyampaikan bahwa Ia ingin meminjam tiga pusaka Keraton Amarta yaitu Jamus Kalimasada, Payung Tunggulnaga dan Tombak Kalawelang untuk membangun kahyangan. Selain itu, Ia juga mengundang para Pandawa untuk segera datang ke Karangkabuyutan. Petruk menerima tugas yang diberikan ayahandanya, dan langsung berangkat menuju negara Amarta.

 

Semar Abangun Kahyangan: Prosesi Pagelaran Wayang Kulit Dengan Ceritera Semar Abangun Kahyangan. (sur)

Semar Abangun Kahyangan: Prosesi Pagelaran Wayang Kulit Dengan Ceritera Semar Abangun Kahyangan. (sur)

Sementara di Amarta, Prabu Yudhistira, di hadapan para saudara-saudaranya sedang membahas sebab kegagalan mereka dan membangun negaranya, datanglah raja Dwarawati, Kresna yang kemudian menanyakan ketidakhadiran Semar dalam keraton Amarta dan menyatakan bahwa itulah yang menjadi kegagalan tersebut.

Oleh karena itu, Kresna memerintahkan Arjuna untuk memanggil Semar dari Karangkabuyutan untuk menghadap ke Amarta.Awalnya sempat timbul salah faham,dikira Semar mau merebut  kekuasaan para pihak pemangku kepentingan.

 

Sugiyanto Kades Segaran

Sugiyanto Kades Segaran

Akhirnya dijelaskan, maksud mereka abangun Kahyangan yakni  membangun mental masyarakat termasuk pemerintah.

“Kami berharap kepada masyarakat Desa Segaran, ceritera ini tidak sekedar ditonton,tetapi juga jadi panutan  kita bersama,” terang Sugiyanto.

Harapan selanjutnya,diusia desa yang mencapai satu setengah abat ini  desa Segaran semakin makmur, sejahtera, masyarakat hidup rukun serta bergotong royong membangun desa guna mencapai masa depan lebih cerah.

Sementara, Kusnadi Kepala Dusun Krajan menjelaskan, sebelumnya Kades bersama seluruh perangkat juga menggelar ritual di sejumlah tempat yang banyak mengandung sejarah terntang berdirinya Desa Segaran sekitar tahun 1867 silam. Seperti gunung Walikukun dan punden gunung Kunci.

“Disitu ada makam mbah wali Yangyaudi, mbah Joyo Bagong dan Kresnowati. Selanjutnya, Kades bersama seluruh perangkat melanjutkan ritual di punden Dusun Sumberkotes Wetan yakni ke makam Nyai Ratmani”,terang Kusnadi.

Dari pantuan langsung Memo X, sebelum masuki puncak acara yakni pagelaran wayang kulit, Kades bersama seluruh perangkat menggelar istiqosah dan berlanjut santunan untuk 40 anak yatim. Hadir juga dalam acara tersebut Camat Gedangan Tatok Irwanto SH bersama sejumlah Kepala Desa se-wilayah Kecamatan Gedangan.

Sekilas sejarah Desa Segaran,berdasar ceritera legenda, di desa ini tiba-tiba muncul mata air (umbulan) yang sangat deras dan besar. Mbok Saimin yang dianggap orang yang sangat tua di daerah ini memperkirakan desanya akan tenggelam menjadi danau/segoro, jika mata air ini tidak disumbat.

Mata air yang sangat besar itu oleh Mbok Saimin disumbat dengan ijuk dan wedus kendit. Sehingga mata airnya mengecil dan menyebar dan menjadi sungai yang lebih dikenal dengan nama Kali Lo. Karena ada pohon lo yang sangat besar.

Sejak peristiwa itu dinamakan dengan Desa Segaran. Desa Segaran, sejak masa penjajahan Belanda sudah dipimpin oleh seorang Kepala Desa (Kades) Pertama di jabat oleh Pak Yat. Kemudian pada periode kedua dipimpin oleh Diran, berlanjut periode ketiga yaitu Pak Min.

Selanjutnya tahun 1899 -1901,masuk periode ke lima Desa Segaran dipimpin oleh pak WongsoPawiro. Berlanjut pemerintahan pak Senen pada periode ke enam (1901-1909) Kades berikutnya bernama Blewah menjabat tahun1909-1939 yang kala itu dipilih atau ditunjuk oleh pemerintah penjajah Belanda.

Sehingga kebijakan arah pembangunan dipengaruhi oleh kepentingan penjajah Belanda. Diantaranya pembangunan jalan dan jembatan yang menghubungkan desa Segaran dan desa Clumprit melintasi sungai Lesti, pembangunan jembatan yang menghubungkan desa Segaran dan Sumberrejo, pembangunan jalan raya menuju desa Gedangan sebagai jalan utama untuk pengangkutan hasil perkebunan yaitu karet dan kopi.

Selain itu masih banyak peninggalan hasil pembangunan kepala desa pada masa penjajahan ini yang masih bermanfaat sampai sekarang diantaranya jalan-jalan yang menghubungkan antar dusun dan desa tetangga. Selanjutnya masuk periode ke delapan di jabat oleh Pak Sajan pada tahun 1939  – 1970.

Pada masa ini desa segaran mendirikan Balai Desa dan sekolah dasar yang diberi nama “Noroyono” dan sekarang bernama SD Segaran 01.

Untuk periode ke sembilan dijabat oleh Pak Kastawi (1970-1989). Periode ke sepuluh dijabat oleh Kusnadi (1989-2006). Berikutnya dijabat oleh Tasan (2006-2013) dan Sugiyanto (2013-2019) mendatang.(sur/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional