Kabar Desa

iklan Penerimaan Mahasiswa baru universitas wisnuwardhana
space ads post kiri

Miarso, Juragan Madu Lumbang, dulu Sales Snack kini Pengusaha Madu

  • Kamis, 23 November 2017 | 21:23
  • / 4 Rabiul Uula 1439
  • Dibaca : 12 kali
Miarso, Juragan Madu Lumbang, dulu Sales Snack kini Pengusaha Madu

Memontum ProbolinggoMulai dari jaman sebelum merdeka, kata kerja keras dan tekad bulat, adalah salah satu pedoman dan menjadi modal untuk masing-masing manusia menjadi berubah demi suatu kesuksesan. Mungkin bagi banyak orang kata diatas adalah kiasan, Tak percaya? Kata tersebut di lakukan oleh salah satu orang desa yaitu Miarso Hadi (45) warga Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, sekarang sudah menjadi pengusaha madu dengan hasil yang fantastis.

 

 

Tapi perjuangan untuk menjadi saudagar madu tidak mudah, perjalanan sukses Miarso dimulai sejak tahun 2000, ketika itu dia memutuskan menjadi peternak lebah madu. Miarso meninggalkan pekerjaannya sebaga sales makanan ringan yang sudah lama di jalaninya, karena penghasilannya hanya cukup untuk biaya makan sehari.

 BINA: Camat Lumbang setelah dikonfirmasi memontum.com (pix)

BINA: Camat Lumbang setelah dikonfirmasi memontum.com (pix)

 

Manuver untuk menjadi peternak madu waktu itu sangat sulit juga. Tapi dengan tekat dan keinginan yang kuat merubah hidupnya, Miarso menjalani proses tersebut. Pilihannya pun terbilang tepat, karena sukses menjadi pengusaha madu. Sekarang hasil dari jerih payahnya selama 7 tahun berjalan membuahkan hasil, Miarso  telah memiliki 200 sampai 250 kotak rumah lebah madu.

 

Tak percaya untuk penghasilannya, dalam 6 bulan,250 kotak tersebut mampu menghasilkan sekitar 10 ton madu alami. Dengan harga jual 80 ribu per botol ukuran 330 mililiter, dari situ Miarso mampu mendapatan hasil kotor sekitar Rp. 800 juta, dan bersih nya diangka Rp.500jt per 6 bulan.

 

“Dulu saya sales mas yang hasilnya untuk makan sehari, irupun kalau dapat. Jika saya tetap menjadi sales tentu penghasilan saya masih kurang.” jelasnya.

 

“Tahun 2000 itu saya mulai bertekada untuk merubah nasip menjadi peternak madu, apapun resikonya. Awal memang susah karena saya ikut dan belajar ke kakak saya, yang sudah beternak lebah madu lebih dulu.” jelasnya lagi.

 

Dari perjuangan dan niatnya tersebut dijalani Miarso selama 7 tahun sampai sekarang ini. Tapi luar biasa, sekarang Miarso tidak hanya menjadi penopang ekonomi keluarga, namun juga mampu mempekerjakan warga disekitarnya. Apalgi kualitas Madu hasil produksi Milik Miarso bisa menghasilkan madu dengan kadar airnya rendah, hanya 24% – 25%. Angka tersebut lebih rendah jauh dibanding wilayah lainnya yang mencapai mencapai 35 % – 45%.

 

“Alhamdulillah untuk sekarang saya bisa seperti ini mas, dan bisa mempekerjaakan tetangga sekitar.” tuturnya.

 

“Untuk kualitas madu sendiri madu dari Lumbang masih diatas kualitasnya, karena kadar airnya hanya 24-25%, sedangkan madu di luar Lumbang masih mencapai 35-45% kadar airnya.” jelas Miarso sambil menunjukkan contoh madunya kepada momentum.com Kamis (23/11/2017). Madu Kecamatan Lumbang Kabupaten Probolinggo ini sangat disukai konsumen. Bahkan saat ini, pemasarannya sudah sampai ke luar daerah, seperti Semarang, Jogyakarta, Surabaya, hingga Bali. (Jawa Bali).

 

Miarso juga menceritakan masalah di budidaya lebah madu saat ini. Pasang surut terjadi saat memasuki masa paceklik, yaitu musim paceklik diawali sejak November hingga 6 bulan kedepan. Pada musim ini, pohon-pohon di kawasan tempat Miarso sudah tak berbunga, dan angin yang kencang, juga bila erupsi Gunung Bromo.

 

“Ada juga masalah di budidaya madu ini, biasanya di musim paceklik, kita menghadapi musim panen selama 6 bulan. Musim panen ini adalah ketika banyak pohon berbunga, semisal randu, kesambi, sengon, mangga dan lain-lain. Tapi si 6 bulan berikutnya adalah proses bertahan bagi lebah.” terangnya.

 

“Tapi bagi saya, usaha ini sangat menjanjikan, saya juga berencana mengembangka lebih luas lagi,” tandas Miarso.

 

Setelah mendatangi tempat budidaya lebah madu milik Miarso, memontum.com langsung mendekati Camat Lumbang, Bambang Heriwahyudi yang kebetulan berada di lokasi kebun durian. Memontum.com menanyakan perkembangan budidaya lebah madu di daerahnya.

 

Bambang menyebutkan bahwa untuk budidaya ternak lebah madu di kawasan lereng Gunung Bromo ini, memang sangat menjanjikan. Selain didukung oleh faktor flora, juga diuntungkan iklim yang tidak terlalu panas.

 

“Di sini memang potensial untuk beternak lebah madu, catatan yang ada pada kami terdapat 240 peternak lebah madu dengan produksi mencapai 500 ton madu per tahunnya. Dan untuk pemasaran, kami bantu melalui Koperasi yang sudah dibentuk peternak lebah sendiri dan kami fasilitasi.”terang Camat Lumbang tersebut, sambil memberikan Durian kepada momentum.com. (pix/yan) 

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional