Connect with us

Kediri

Kesulitan Pupuk Bersubsidi, Petani Kencong Kembangkan Padi Organik

Diterbitkan

||

Kesulitan Pupuk Bersubsidi, Petani Kencong Kembangkan Padi Organik

Memontum Kediri – Karena kelangkaan pupuk bersubsidi sejak empat tahun lalu membuat petani di Desa Kencong, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri tidak patah arang. Para petani kini mengandalkan pupuk organik dan menjadi petani mandiri.

Hamparan tanaman padi di areal persawahan ini, terbagi dalam plot-plot dengan papan besar bertuliskan ‘Padi Konversi Organik kerjasama Bumdes dengan Kelompok Tani Mulur’. Padi tersebut adalah tanaman organik yang dikembangkan oleh kelompok tani (Poktan) dan Pemerintah Desa (Pemdes) Kencong

Kepala Desa Kencong Nurhadi Wiyono mengatakan, pengembangan ini sudah dilakukan sejak empat tahun lalu, sejak pupuk bersubsidi mahal dan langka.

Akhirnya ada sosialisasi dari petugas penyuluh lapang (PPL) terkait penanggulangan kelangkaan pupuk dengan pembuatan pupuk organik. Terutama dengan cara membuat kompos dari kotoran ternak. “Kotoran ternak ini sangat murah dan mudah ditemukan di sini,” katanya.

Kepala Desa Kencong menambahkan, dukungan dari pemdes untuk mengembangkan alternatif ini juga sangat besar. Setiap satu bulan sekali selalu diadakan pelatihan. ” Pemdes mendatangkan PPL dan juga tim ahli. Memang awal-awal pelatihan tak semudah seperti membalikkan telapak tangan, ” lanjutnya.

Menurut Wiyono, dalam mengenalkan pertanian berbasis organik pada Poktan membutuhkan proses yang panjang. Karena perubahan sistem budidaya dari padi konvensional ke organik itu membutuhkan waktu yang cukup lama. “Awalnya hasil tanaman tidak seperti yang diharapkan, terutama dalam pemasarannya yang sulit, karena harga beras organik mencapai dua kali lipat dibanding beras biasa, “ Itulah yang membuat kelompok tani semakin semangat, tak ada kata menyerah bagi mereka, tegasnya.

Sementara Ali Maksun, salah satu petani anggota Poktan Mulur Desa Kencong mengaku, awalnya untuk menanamkan kesadaran petani dalam bertanam padi organik itu sangat sulit. Namun saat ini sudah menggandrungi budidaya padi sistem organik karena alasan kesehatan. “Dulu saya sakit lambung lama, ternyata makan nasi dari beras organik lama-kelamaan sakitnya bekurang,” terangnya.

Petani sekaligus guru MTs itu menyebut bahwa dengan cara konvensional akan banyak kandungan bahan kimia yang bisa merusak lingkungan. Bahkan hal itu pastinya bisa berdampak buruk bagi kesehatan.

Petani lain, Budi Agus Santoso menyampaikan bahwa petani organik itu adalah petani yang mandiri, karena tidak mengandalkan pupuk bersubsidi. Bahkan para petani organik siap kalau pupuk subsidi dicabut karena selama ini kita tidak ketergantungan dengan pupuk subsidi dan pestisida. “Untuk pestisida kami manfaatkan pestisida hayati yang diracik sendiri dari tanaman dan rempah,” tegasnya.

Alhasil dari perjuangan Pemdes dan Poktan Desa Kencong dalam mengembangkan padi organik Poktan yang bersinergi dengan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), budidaya padi organik semakin berkembang lagi. (im/aji/yan)

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending