Connect with us

Sidoarjo

Petani Kedungboto Berharap Perbaikan Saluran Irigasi

Diterbitkan

||

Petani Kedungboto Berharap Perbaikan Saluran Irigasi

Memontum Sidoarjo – Petani Desa Kedungboto,Kecamatan Porong membutuhkan perbaikan saluran irigasi. Pasalnya saluran irigasi di tengah sawah yang panjangnya 425 M masih belum tersentuh plengsengan hingga air banyak yang terbuang percuma. Akibatnya lahan sawah seluas 40 Ha ,milik petani kekurangan pasokan air ketika musim cocok tanam.

Kepala Desa Kedungboto Yusuf mengatakan persoalan saluran irigasi itu,sejak lama belum tersentuh pembangunan.Hampir 8 tahun dan hanya sebagian saja yang nampak sudah plengsengan. Akibatnya aliran air ke sawah tidak normal. Hal ini berimbas pada penghasilan petani karena penen terus menurun. Kalau biasanya panen padi bisa,mencapai 7,5 ton /Ha namun saat ini panennya 5 ton/Ha.

Kaur Kesra Desa Kedungboto,M.Toha tunjukkan lokasi saluran irigasi belum di plengseng (Memo X/Agus HP)

Kaur Kesra Desa Kedungboto,M.Toha tunjukkan lokasi saluran irigasi belum di plengseng (Memo X/Agus HP)

Dengan kuranganya pasokan air ini Pemerintah Desa,berupaya mengajukan bantuan pembangunan plengsengan kepada Dinas terkait di Kabupaten Sidoarjo namun belum ada realisasinya.”Kami berharap pengajuan bantuan,pembangunan plengsengan saluran irigasi segera direalisasikan ,” ungkapnya

Selain plengsengan Pemerintah Desa Kedungboto juga membutuhkan bibit benih ikan. Bibit itu, rencananya akan ditebar pada kolam penangkaran. Tujuanya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.” Lagi-lagi pengajuan bantuan kepada oleh Dinas terkait di kabupaten Sidoarjo juga belum direalisasi ,” katanya lagi.

Hal senada dikatakan,Mis Ali selaku ketua kelompok ” Sari Tani “, dia mengatakan kendala utama yang dihadapi petani adalah saluran irigasi.Sebab ketika musim hujan tiba dan terjadi peningkatan volume, air meluap ke sawah dan sulit membuangnya.Sebaliknya jika musim kemarau,bersamaan dengan musim tanam petani kesulitan mencari air.

Akhirnya, petani terpaksa mencari air dengan cara menggunakan mesin pompa,mengambil air dari aliran sungai Dusun Waung,Desa Jiken,Tulangan.Itupun selama pemompaan membutukan waktu 20 hari sampai 25 hari,menelan biaya sebesar Rp.3 juta dari awal proses pembajakan dan masa akhir penanaman benih padi.Kurangnya pasokan air itu merembet pada lahan sawah seluas 20 Ha ,dan kini kondisinya tidak produktif untuk ditanami padi. (gus/yan)

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Trending