Connect with us

Situbondo

Tanggul Irigasi Jebol Tak Kunjung Diperbaiki, Petani 3 Desa di Kapongan Beraksi Sendiri

Diterbitkan

||

Puluhan petani secara Swadaya menutup tanggul saluran pembuangan yang Jebol.(im)

Memontum Situbondo- Sejak Desember 2016 silam, tanggul saluran pembuangan di Kapongan sepanjang 20 meter jebol akibat tak sanggup menahan debit air di musim penghujan saat itu. Dampaknya, aliran air hilir DAM Suhar pengairan sawah juga terpaksa ditutup memakai kayu dan sampah. Jika tidak, air akan meluber ke puluhan hektare sawah petani yang jebol.

Akibat jebolnya tanggul saluran pembuangan air ini, pasokan air ke 3 desa di Kecamatan Kapongan, Situbondo jadi terputus juga. Kondisi ini jelas mempengaruhi pengairan untuk 600 hektare lahan pertanian di sana.

Sayangnya, kondisi ini dinilai petani tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah. Padahal akibat kejadian itu, ratusan petani di desa tersebut banyak yang gagal panen.

Haji Sutipyo (65) petani Desa Peleyan Kapongan.(im)

Haji Sutipyo (65) petani Desa Peleyan Kapongan.(im)

Kini, setelah berbulan-bulan berlalu menunggu janji pemerintah yang mau memperbaiki tanggul yang jebol, akhirnya para petani bergerak sendiri. Puluhan petani di Dusun/Desa Peleyan, Kapongan yang terdampak akhirnya turun tangan memperbaiki tanggul saluran pembuangan secara swadaya yang dimulai Senin (30/4).

Salah seorang petani, H.Sutipyo (65) mengatakan, wilayah terdampak jebolnya tanggul ini meliputi Desa Juglangan, Peleyan dan Wonokoyo. Lahan pertanian di 3 desa ini mengandalkan suplai air dari mesin pompa air.

Putusnya pasokan air, lanjut H.Sutipyo, mengakibatkan ratusan petani gagal panen. H.Sutipyo pun merasakan sendiri dampak jebolnya tanggul saluran pembuangan tersebut. Hasil panen tanaman padi miliknya seluas 1 hektar di Desa Peleyan, anjlok hingga 75 persen.

Karena kondisi ini, H.Sutipyo mengaku kerugian yang dia tanggung mencapai Rp 3 juta. Padahal jika pasokan air cukup, rata-rata lahan miliknya menghasilkan 4 ton gabah dalam sekali panen.

“Awal April kemarin panen saya hanya dapat 5 kwintal (0,5 ton) gabah kering. Bulir padi tak ada isinya karena kekurangan air,” ungkapnya.

Tak sampai di situ, lanjut H.Sutipyo, tak adanya pasokan air membuatnya tak berani bercocok tanam lagi. Menurutnya, jika dipaksakan tanpa pasokan air, tanaman bakal mati kekeringan. Dampaknya akan menambah kerugian.

“Katanya pihak pengairan bulan 2 (Februari, red) diperbaiki, tapi sampai bulan ini tak ada kepastian, makanya kami perbaiki sendiri,” cetusnya, Senin (30/4) di lokasi.

Sementara itu, saat dikonfirmasi Memontum.com, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Situbondo, melalui Kabid Pengairan, Imam Suharto menjelaskan, jebolnya tanggul pembatas saluran pembuangan hilir DAM Suhar Desa Peleyan, Kecamatan Kapongan itu telah kami survei dan sudah kontrak Dinas PUPR Kabupaten Situbondo.

“Insyaallah tahun ini (2018,red), harus sudah dikerjakan dari Dinas PUPR Kabupaten Situbondo. Kita sudah kontrak,” paparnya.

Terkait tak kunjung adanya perbaikan, tambah Imam, hanya persoalan waktu. Menurut Imam, Dinas PUPR Kabupaten Situbondo harus mengerjakan perbaikan di tempat lain.

“Harus bertahap, tidak di situ saja. Kalau bencana mungkin dari hulu sampai hilir. Kepastiannya kapan saya tidak tahu karena ini, tanggul pembatas saluran pembuangan yang jebol sudah kami usulkan pada skala prioritas,” tandasnya (im/yan)

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending